BADRUDIN BANTEN

sederhana aja napa sih… *_"

  • ╔╦╦╦═╦╗╔═╦═╦══╦═╗ ║║║║╩╣╚╣═╣║║║║║╩╣ ╚══╩═╩═╩═╩═╩╩╩╩═╝ Selamat datang diblog sederhana http://www.badrudinbanten.wordpress.com, menyediakan informasi yang layak dikonsumsi oleh kalangan pelajar, pengajar dan umum * Jangan lupa isi Buku Tamu
  • Categories

  • Sederhana itu mudah!

    Merendahlah, maka kau akan seperti bintang gemilang. Berkilau di pandang orang. Di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap. Yang mengangkat diri tinggi di langit. Padahal dirinya rendah hina.
  • DAPODIK

Inovasi Bangkitkan Semangat Belajar Siswa

Posted by badrudinbanten on 22 November 2011

Para pakar pendidikan umumnya sependapat bahwa iklim belajar yang dikembangkan guru mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan dan gairah belajar siswa.

KUALITAS dan keberhasilan pembelajaran juga sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan guru dalam memilih dan menggunakan metode pembelajaran. Ini berarti bahwa keberadaan guru dalam suatu proses pembelajaran memiliki peran dan kedudukan yang menentukan.

Dr. George Lozanov, seorang peneliti pendidikan dan tokoh metode pembelajaran cepat dari Bulgaria mengatakan, pengaruh guru sangat penting dalam mengantarkan siswa pada kesuksesan belajarnya. Pendapat tersebut diperkuat oleh pencetus metode belajar quiching (quantum teaching) Bobbi de Porter (2002) bahwa guru sangat memengaruhi keberhasilan belajar siswa.

Kedua pendapat tersebut semakin menguatkan asumsi bahwa potensi, bakat, dan minat siswa akan berkembang manakala guru mampu membimbing dan mengarahkannya. Di dalam kelas guru tidak hanya berfungsi sebagai orang yang melakukan transfer of knowledge atau penyampai ilmu pengetahuan tetapi juga mampu memerankan diri sebagai pewaris nilai, pembimbing, fasilitator, rekan belajar, model, pemimpin kelas serta motivator bagi siswanya.

Guru harus berupaya menghapus kebiasaan kurang baik pada diri siswa yang cenderung merespons pembelajaran hanya “tell me what to do”, menerima apa adanya atau hanya patuh melakukan perintah guru semata, sehingga tidak tampak aktivitas belajar proaktif dari dalam diri siswa sendiri. Kecenderungan demikian dapat ditafsirkan seolah-olah guru adalah segala-galanya dan terkesan mendominasi siswa, padahal penyebabnya bisa muncul dari diri siswa sendiri sebagai akibat kebiasaan selalu nrimo atau takut berbeda pendapat dengan gurunya. Hal inilah yang harus diantisipasi guru.

Dengan berbagai keterampilan dasar mendidik, membimbing, dan mengajar, maka menjadi tugas seorang guru untuk melakukan berbagai kreasi dalam pembelajaran. Hal ini hanya mungkin terjadi jika sosok guru dimaksud memiliki sikap kreatif, produktif dan cerdas baik secara emosional, intelektual, maupun spiritual, bertanggung jawab, berdedikasi tinggi, serta tidak lekas puas atas apa yang telah dikerjakannya.

Berkreasi dalam pembelajaran dapat pula dimaknai sebagai melakukan inovasi dalam pembelajaran, yakni suatu upaya melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, dan sarana yang mendukung dalam suasana dan iklim belajar yang menyenangkan.

Menghadirkan siswa tingkat menengah dalam sebuah persidangan di pengadilan, adalah contoh inovasi pembelajaran yang dilakukan seorang guru kewarganegaraan dalam rangka memahami bagaimana supremasi hukum harus dijunjung tinggi oleh setiap warga negara, termasuk oleh para siswa.

Inovasi itu sendiri bertujuan di antaranya, pertama, merupakan respons dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Dengan adanya inovasi, diharapkan pendekatan atau metode yang digunakan ketika mengajar dapat mencapai sasaran. Kedua, upaya mencari solusi atas masalah yang berkembang atau terjadi di lapangan. Maksudnya, persoalan aktual yang dihadapi siswa dapat dicari penyelesaiannya dalam pembelajaran.

Dengan demikian jelaslah bahwa inovasi pembelajaran yang dilakukan seorang guru akan menumbuhkan motivasi belajar siswa, yang pada gilirannya dapat meningkatkan prestasi belajarnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh para pakar pendidikan menunjukkan adanya korelasi positif antara motivasi belajar siswa dengan prestasi belajarnya. Baik tidaknya prestasi belajar siswa dapat ditentukan sejauh mana motivasi belajarnya.

Persoalannya, motivasi belajar siswa itu secara ekstrinsik salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan guru. Artinya, sejauh mana kemampuan dan kemauan guru dalam meningkatkan motivasi siswa ketika pembelajaran berlangsung. Holmes Group (dalam Furqon, 1998:2) menyatakan bahwa pengetahuan dibangun secara imajinatif, dan tidak diperoleh secara pasif. Kesempatan tersebut muncul manakala siswa memiliki motivasi belajar yang kuat untuk meraihnya.

Sumber: Pikiran Rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: